PENGEMBANGAN METODE FORMULASI JAMUR MIKORIZA PADA TANAMAN KAKAO


Diketahui bahwa dilapang, terdapat jamur Mikoriza yang berasosiasi dengan perakaran tanaman kakao, sehingga tanaman kakao cenderung lebih tahan terhadap serangan patogen tanah (soil borne), kekeringan dan tanaman tumbuh lebih baik. Untuk itu perlu dilakukan penyediaan mikoriza yang berpotensi tinggi, mudah diaplikasikan oleh petani ke bibit kakao, namun terjangkau masyarakat. Tujuan dari kegiatan ini yaitu, untuk mendapatkan bentuk formulasi pupuk hayati mikoriza siap dan mudah diaplikasikan, mempunyai daya  simpan lama dan tetap memiliki viabilitas serta daya infeksi yang tinggi terhadap perakaran inang, serta pengaruh pupuk hayati mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman kakao.

Kegiatan perbanyakan dan formulasi pupuk hayati dilaksanakan di Laboratorium BBP2TP Surabaya di Mojoagung – Jombang, dan Uji Coba Hasil Formulasi pada tanaman kakao dilaksanakan  di Desa Winong, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek.

Berdasarkan hasil kegiatan yang telah dilaksanakan, bahwa bentuk formulasi pupuk hayati mikoriza komposit APH Trichoderma sp, diketahui kurang kompatibel jika diaplikasikan secara bersamaan, karena jamur Trichoderma sp. mempengaruhi perkembangan jamur mikoriza sehingga tidak berkembang dengan baik. Zeolit dipilih sebagai bahan pembawa untuk formulasi jamur mikoriza karena zeolit memiliki kelebihan dibanding bahan pembawa lain. Formulasi pupuk hayati mikoriza dengan bahan pembawa zeolit berisi zeolit yang mengandung spora, hifa serta akar tanaman jagung yang mengandung spora mikoriza. Formulasi pupuk hayati mikoriza sebaiknya mengandung spora 10 – 50 spora/ gram, dengan masa simpan 12 – 18 bulan, dan tetap infektif terhadap perakaran inang.

Secara umum aplikasi pupuk hayati mikoriza berpengaruh positif terhadap pertumbuhan , jumlah daun, berat akar tanaman uji. Pada perlakuan tanaman uji M100 dan M50, mikoriza telah mampu menginfeksi perakaran bibit tanaman kakao. Perakaran tanaman yang telah terinfeksi VA Mikoriza akan menunjukkan bentuk fisik yang lebih baik dan akan membentuk luas serapan akar yang lebih besar sehingga kemampuan tanaman menyerap unsur hara baik makro maupun mikro dan air menjadi lebih besar.

2 Komentar (+add yours?)

  1. Arie Andhini
    Apr 20, 2012 @ 01:02:16

    OK

    Balas

  2. Arie Andhini
    Apr 20, 2012 @ 01:04:17

    Masih TK Belom bisa Mikir …………

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

http://www.google.co.id/imgres?hl=id&newwindow=1&client=firefox-a&hs=xIM&sa=X&rls=org.mozilla:id:official&biw=1366&bih=651&tbm=isch&prmd=imvnsb&tbnid=hn_MgD0iF45hUM:&imgrefurl=http://www.kabarindonesia.com/berita.php%3Fpil%3D4%26dn%3D20081031121752&docid=PprqtNeIu5G5NM&imgurl=http://www.kabarindonesia.com/gbrberita/200810/20081031121752.gif&w=160&h=192&ei=MD6UT46uFonRrQfiwMWZBQ&zoom=1&iact=hc&vpx=1161&vpy=203&dur=691&hovh=153&hovw=128&tx=95&ty=83&sig=102335494197651282215&page=1&tbnh=129&tbnw=107&start=0&ndsp=20&ved=1t:429,r:6,s:0,i:77

%d blogger menyukai ini: