Tanam Jati Kuatkan Korsa


Menanam Jati Membangun Kebersamaan Karyawan BPDAS Solo
(menguatkan korsa)
Oleh Fungsional PEH BPDAS Solo   
Aktifitas dan kekuatan hidup setiap insan dari waktu ke waktu akhirnya harus disadari menuju batasnya. Akhir aktifitas bekerja harus juga mampu menerima akhir perimbaan hidup dan masuk pada komunitas baru yang disebut Pensiun.
Pensiun akan terjadi bagi profesi apapun dan dimanapun, pensiun harus terjadi karena adanya ketentuan atau juga keterbatasan fisik, profesi apapun baik Pegawai Negeri Sipil (PNS), Pegawai Swasta, Wirausaha, atau Petani sekalipun pasti menghadapinya.

Kesiapan menghadapi pensiun menjadi penting, takkala diujung pengabdian sudah menjadi kesadaran setiap karyawan. Maka, kebesaran jiwa harus menjadi dasar, agar upaya menyongsong kondisi dan situasi pensiun tetap enjoy dengan aktifitas yang produktif. Tantangan ini yang menjadi kunci untuk dipersiapkan jauh waktu dimasa aktif (kuat).
Seringkali kita masih banyak yang beranggapan, bahwa pensiun adalah saat menikmati hari tua dalam bahasa negatif adalah”bermalas-malasan”, dan hidup Mantab (makan tabungan) dll.
Secara fisik cara ini mungkin benar, tetapi, fakta hidup manusia tetap memerlukan komunikasi sosial, yang tidak lepas dari biaya (social cost), pertanyaanya apakah tabungan yang banyak sebagai jawaban yang tepat, mungkin benar tetapi berkurangnya tabungan tanpa penambahan seringkali mengganggu kejiwaan seorang pensiunan.
Menurut dokter spesialis kesehatan jiwa yang mendalami bidang geriatri, Martina Wiwie Nasrun mengatakan bahwa mereka yang memiliki konsep seperti itu biasanya malah tak bahagia. “Konsep pensiun identik dengan enak-enakan itu hanya berhasil beberapa bulan, setelah itu mereka justru tak bahagia,” ujarnya.
Salah satu persiapan penting pensiun yang berpengaruh pada mental orang adalah menciptakan aktivitas rutin yang baru.

Pensiun Ala Rimbawan

Pada dasarnya alam memberikan manfaat yang begitu berlimpah bagi kehidupan manusia, termasuk kita Rimbawan Departemen Kehutanan. Maka, sebagai rimbawan juga sepantasnya ikut terpanggil untuk melestarikanya, lestari karena lingkungan menjadi sejuk, lestari akan kebutuhan kayu dan hasil ikutanya, lestari budaya yang menghargai lingkungan hidup saat ini dan masa akan datang dan tidak kalah penting lestari akan kesejahteraan lahir dan batin  keluarga.
Model rehabilitasi lahan secara mandiri karyawan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Solo merupakan panggilan jiwa karyawan secara mandiri, sebagai bukti kesadaran dan tanggungjawab sebagai PNS BPDAS yang secara sederhana termanivestasikan dalam bentuk ”aktifitas tanam menanam” sekaligus sebagai tabungan hidup. Mandiri disini mengandung arti, bahwa kesadaran diri sendiri sebagai dasar dalam mendapatkan lahan, bibit, penanaman serta pemeliharaan untuk mewujudkanya secara swadaya. Cara yang diakukan yaitu dengan iuran bersama antara pegawai yang berminat serta bergabung dalam pembuatan kebun Jati (hutan rakyat).
Makna yang dapat diambil cara ini adalah PNS BPDAS turut merasakan jerih payah dan tanggungjawab sebagaimana dilakukan oleh petani hutan rakyat pada umumnya.
Kegiatan dengan cara yang sederhana ini,  merupakan bentuk partisipasi aktif karyawan dalam mendukung program rehabilitasi dan mensukseskan program pengurangan pemanasan global, dan lebih penting dari itu model penanaman jati secara bersama sama menjadi pengikat dan media keakraban sesama profesi rimbawan, agar saling berinteraksi dengan rasa kekeluargaan yang berpengharapan, dan selalu saling menguatkan.
Pola penanaman bersama juga menyiapkan diri atas kesadaran,  bahwa ujung pengabdian profesi pasti berakhir (pensiun).

Bentuk Kegiatan

Usaha Penanaman Bersama Jati karyawan BPDAS Solo telah dimulai sejak tahun 2002 dan masih berjalan hingga sekarang. Pada awal kegiatan diawali dengan kesepakatan 4 (empat) orang dengan cara iuran, hasil dari iuran untu mendapatkan sebidang lahan yang terjangkau baik jaraknya, luas dan harganya.
Upaya dan tekad tersebut akhirnya terwujud mendapatkan lahan kritis di Desa Beji Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri seluas 1,2  ha dengan harga beli tanah Rp. 21 juta.
Kegiatan penanaman bersama ini terus berjalan dan mendapat respons positif dari beberapa karyawan lain bahkan instansi atau lembaga lainya, sehingga setiap tahunya juga semakin luas dan berkembang peminatnya.
Terbukti awal pemilikan yang hanya 1,2 ha sekarang telah berkembang menjadi kurang lebih seluas 5 ha, sedangkan peminat di awal 4 orang, sekarang yang berpartisipasi telah berkembang menjadi 21 karyawan, selain karyawan BPDAS Solo juga datang dari UPT lainya.

Proses pengembangan kegiatan RHL berbentuk kegiatan penanaman hutan rakyat Jati ini, berkembang sejalan dengan semangat rimbawan dan kesadaran akan pentingnya hari esok yang lestari.
Model pendanaan juga bervariasi, namun untuk karyawan BPDAS Solo umunya diperoleh dengan bantuan kredit dari koperasi. Pola iuran yang dikembangkan saat ini setiap orang dipungut Rp.5.550.000.- (lima juta lima ratus ribu rupiah) anggota.
Uang  yang terkumpul dijadikan modal pembelian tanah, persiapan lapangan, penanaman serta pemeliharaan kebun jati.
Sasaran tanah yang dibeli adalah lahan lahan kritis  di pedesaan yaitu berupa tanah yang tidak produktif untuk usaha tani (marginal) atau juga lahan tidur (bero), dengan asumsi, bahwa kondisi tanah tersebut harganya relatif murah per satuan lauasnya, sehingga prinsip yang dikembangkan dalam penanaman bersama ini yaitu “membeli lahan  yang semurah-murahnya tetapi mampu menghasilkan tegakan sebanyak banyaknya”,.

Pelajaran yang dapat dipetik dalam proses penanaman bersama pada lahan kritis adalah menggugah kembali sikap rimbawan untuk mau belajar mempraktekan semangat RHL dan mengembangkan pengetahuan ilmu tanam menanam hutan secara nyata.
Upaya yang dilakukan adalah bagaimana setiap tantangan biofisik penanaman jati tersebut dapat tumbuh dan berkembang menjadi tegakan yang baik, dan secara sosial dapat dijadikan penyemangat bagi masyarakat luas lainya, faktanya telah dijadikan acuan pihak lain yang memiliki minat yang sama.

Perkembangan penanaman bersama saat ini menyebar di beberapa lokasi, diantaranya berada di Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten  Wonogiri seluas ± 2,2 ha, Kecamatan Gemolong Kabupaten Sragen seluas ± 3,3 ha dan Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi  ± 1200 m2.  Masing masing lokasi telah menjadi tanah milik dan bersertifikat, sedangkan model pemilikan adalah pemilikan bersama.
Untuk menjaga kepercayaan diantara anggota, maka tanah yang telah dibeli disertifikasi atas nama wakil pemilikan dan dikuatkan dengan mencatatatkan di Notaris, yang menerangkan kesepakatan bersama, bahwa lahan milik atas nama (nama tertulis dalam sertifikat) dengan nomor sertifikat ….yang berlokasi…(alamat tanah) adalah wakil pemilikan anggota (ditulis nama lengkap dan alamat) serta ahli warisnya. Kemudian, yang diharapkan kelak adalah apabila telah tiba masa panennya maka hasil berupa tegakan dan lahan menjadi milik bersama dan dibagi secara bersama.
Pemanenan jati  bersama BPDAS Solo, direncanakan akan ditebang apabila tegakan telah berumur 15 tahun (pra pensiun).
Apabila tegakan jati berkembang normal dan berhasil sesuai dengan rencana kegiatan, maka setiap anggota penanaman bersama jati BPDAS Solo telah memiliki tegakan setelah dikurangi penjarangan dan kematian masih tersisa tegakan sisa sekitar 800 pohon /ha.
Sebagai gambaran mengacu harga jual kayu jati rakyat di pasaran saat ini, bahwa harga pohon berdiri dengan kondisi sehat (normal) umur 15 tahun tercatat memiliki harga setiap pohonya rata rata sebesar Rp. 500,000 (lima ratus ribu rupiah s/d Rp. 1000.000.- (satu juta rupiah).
Apabila tegakan sisa 800 batang/ ha maka dengan luas pemilikan saat ini 5 ha, maka anggota penanaman bersama jati BPDAS Solo telah memiliki stock kayu berdiri sebanyak 4000 (empat ribu) batang, apabila setiap pohon pada umur 15 tahun ke depan mampu mencapai harga Rp. 1.000.000.-, maka diperkirakan nilai manfaat berupa tabungan uang minimal  Rp. 4.000.000.000 (empat milyar rupiah).
Perkiraan tersebut sangat sederhana, yang pasti hasil kegiatan dan perkiraan manfaat tersebut merupakan karya nyata yang rasional, sekaligus rasa syukur dalam upaya menambah bekal kegiatan yang hidup di masa pensiun.

Dampak Kegiatan

Model penanaman jati karyawan BPDAS Solo, juga dapat dijalankan di semua komunitas atau organisasi dimanapun berada, baik itu komunitas PNS, swasta, kumpulan RT, masyarakat hulu DAS dll, apabila semua pengelolaan lahan dilakukan dengan cara bersama (coorporation) ini dapat berjalan di semua wilayah, maka dimungkinkan pemerintah tidak banyak direpotkan lagi dengan dana RHL yang besar, tetapi justru dengan kesadaran dan pemahaman akan masa depannya, maka karyawan, masyarakat akan dapat berpartisipasi aktif melestarikan alam sekaligus menabung untuk mereka dan keluarganya secara mandiri.

Keuntungan yang pasti diperoleh dari kegiatan investasi berkebun tanaman kayu-kayuan (hutan rakyat jati) yaitu :

  1. Secara fisik akan diperoleh stok kayu;
  2. Nilai bunga tanah yang berkembang;
  3. Peningkatan kesuburan tanah dari siklus hara alami;
  4. Meningkatkan pemasukan air hujan ke dalam tanah (infiltrasi) melalui akar-akar tanaman, menyimpan dalam tanah selama mungkin, menyalurkan secara pelan, secara otomatis telah membantu siklus hidrologi secara baik;
  5. Kayu bakar dari ranting-rantingnya yang tidak sedikit;
  6. Daun dan buah yang mungkin dapat dimanfaatkan bagi sesama;
  7. Berkembang biaknya satwa dan kehidupan lainya, dan masih banyak keuntungan lainya.

Selain keuntungan fisik diatas, secara psikis (ketentraman jiwa) keuntungan yang diperoleh yaitu :

  1. Hijauan pohon-pohon (hutan) merupakan sarana penghiburan yang murah, segar dan sehat,
  2. Kebun kayu atau biasa disebut hutan rakyat sedikit kerawanan dibanding dengan kebun buah-buahan, maka hutan rakyat relatif aman dari pencurian. Rasa aman merupakan hal penting dalam penjaminan terhadap investasi, dan hingga saat ini jarang didengar ada pencurian kayu rakyat.
  3. Pengalaman mengelola hutan rakyat menjadi tambahan ilmu pengetahuan yang dapat ditularkan, sehingga menambah kepercayaan baru bagi pensiunan untuk menjadi narasumber bagi komunitas baru yang berminat,
  4. Aktifitas berkebun selalu terjalin interaksi aktif dengan sesama petani pohon disekitar kebun atau kelompok tani, demikian juga hasil investasi berupa kayu akan menjalin hubungan usaha baru dengan penebang kayu dan pengusaha kayu, dan lain sebagainya,
  5. Memberikan kebahagiaan dan kesejahteran bagi keluarga dari hasil penjualan stok kayu dan lainya,
  6.  Bila harus ditinggalkan sebagai warisan, maka warisan tersebut akan menjadi prasasti yang dikenang dengan sangat hormat oleh keluarga dan keturunannya,
  7. Secara rohani telah melakukan ibadah akan penyelamatan anugerah Sang Pencipta berupa pemeliharaan alam, dll.

Demikian besar manfaat upaya penanaman bersama Jati karyawan, dimana pohon-pohon dalam hutan rakyat akan memberikan kenangan indah dari jerih payah semasa aktif (sebelum pensiun). Model ini juga memberikan perasaaan hormat bagi diri, dan rasa syukur yang mendalam dari sebuah upaya anak manusia yang sadar akan kehidupan.
Lukisan dalam sekumpulan pohon miliknya, cerminan pancaran kebahagiaan atas karya yang tersisa, sehingga akan dapat menumbuhkan aura semangat baru dan sebagai obat daya hidup pensiunan, atau dengan kata lain akan lebih enjoy. Lebih penting dari itu, hijauannya dan lambaian daun hutan rakyat menumbuhkan pujaan syukur atas karunia yang melimpah-limpah dalam jiwa dan sanubari para pensiunan kelak.
Kapan sebaiknya kita mulai merencanakan dan melaksanakan Usaha bersama ini, atau jenis lainya? ,. Secara pasti memang tidak ada waktu yang paling tepat untuk memulainya, akan tetapi semakin cepat menyisihkan dana, akan semakin baik dan semakin banyak pilihan lahan yang dapat direncanakan.
Mempertimbangkan sisa waktu aktif sangatlah penting, sehingga pilihan jenis tanaman dapat disesuaikan dengan teknik dan peluang pasarnya. Tetapi, kalau investai tersebut ditujukan untuk tambahan kegiatan, yang hasilnya menjadi bagian warisan anak, cucu serta keluarga, tentu pertimbangan yang diambil lebih mudah, artinya panen cepat bukan tujuan utama, namun kebahagian keluarga dan rasa membangun ikatan kebahagian lestari menjadi tujuannya.
Tidak hanya sebatas impian tapi kenyataan, demikian juga rimbawan dimanapun secara bersama dapat merencanakannya dari sekarang, semakin muda usia karyawan semakin besar nilai manfaat  yang diperoleh. Penghasilan yang bagus di masa muda hendaknya jangan menjadikan kita lupa dan sengsara dimasa tua.
Segera rencanakan dana pensiun dengan pola rehabilitasi yang menguntungkan, sekaligus menjadi cermin kehidupan dan kebersamaan Rimbawan Depertemen Kehutanan. Siap melakukan cara ini berarti siap memperoleh masa pensiun yang membahagiakan bagi sesama, sehat dan damai bersama untuk Alam Indonesia, semoga juga terbebas dari kesulitan finansial di kala tua.  Salam Rimbawan.

”Hidup Rimbawan Masa Depan”.

1 Komentar (+add yours?)

  1. Suherman
    Mei 27, 2013 @ 11:48:27

    Mohon izin, terutama untuk keperluan Sosialisasi , bahwa Pohon Jati adalah pohon Pembuka Kesempatan yang memiliki Multiflier-effect keekonomian yang meluas, disamping juga cocok bagi perbaikan ekosistem

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

http://www.google.co.id/imgres?hl=id&newwindow=1&client=firefox-a&hs=xIM&sa=X&rls=org.mozilla:id:official&biw=1366&bih=651&tbm=isch&prmd=imvnsb&tbnid=hn_MgD0iF45hUM:&imgrefurl=http://www.kabarindonesia.com/berita.php%3Fpil%3D4%26dn%3D20081031121752&docid=PprqtNeIu5G5NM&imgurl=http://www.kabarindonesia.com/gbrberita/200810/20081031121752.gif&w=160&h=192&ei=MD6UT46uFonRrQfiwMWZBQ&zoom=1&iact=hc&vpx=1161&vpy=203&dur=691&hovh=153&hovw=128&tx=95&ty=83&sig=102335494197651282215&page=1&tbnh=129&tbnw=107&start=0&ndsp=20&ved=1t:429,r:6,s:0,i:77

%d blogger menyukai ini: