Agribisnis Jati Putih


Meningkatkan kebutuhan kayu industri membuat produsen kayu melirik potensi tanaman yang memiliki pertumbuhan cepat dengan kualitas kayu yang bagus. Hal ini salah satunya dipicu oleh rendahnya produksi kayu sengon karena di beberapa sentra produksi kayu sengon banyak diserang penyakit karat puru. Salah satu jenis tanaman kayu yang memiliki potensi pertumbuhan cepat adalah jati putih (Gmelina arborea Roxb).

Pasar masih terbuka

Prospek budi daya jati putih kian cerah karena meningkatkan kebutuhan kayu industri. Sebagai bahan baku kayu industri, kayu jatih putih kerap digunakan sebagai pulp, plywood, bahan konstruksi ringan, asesoris interior, perabot rumah tangga, kerajinan, dan cinderamata. Selain kayunya, beberapa bagian tanaman juga bisa dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Sementara daunnya bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak.

Sebagai komoditas yang potensial, kayu jati putih banyak dipasok ke berbagai daerah di Indonesia. Harga jual kayu pada tahun 2009 berkisar 50—100 juta per ha, bergantung pada diameter kayu dan jarak tanam. Tidak hanya untuk memasok pasar dalam negeri, pasar luar negeri juga masih menganga. Sebagai contoh adalah pasar Jepang. Di Jepang, kayu jati putih diolah menggunakan teknologi tinggi sehingga menghasilkan cenderamata, esesoris interior, dan perabot rumah tangga.

Mudahnya budi daya

Tanaman hutan, termasuk jati putih merupakan jenis tanaman yang tidak rewel. Artinya, dengan perawatan minimal, tanaman jati putih bisa tumbuh dengan optimal. Agar pertumbuhannya kian pesat, sebelum menanam jati putih, ada baiknya petani memahami karakter dari tanaman dan mempelajari lokasi penanaman, terkait dengan ketinggian tempat, kondisi tanah, curah hujan, dan suhu lingkungan.

Karakteristik jati putih

Jati putih saat ini sudah banyak dibudidayakan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia; Afrika Barat; dan Amerika Selatan. Tanaman berdaun lebar ini menyukai dataran rendah, kira-kira 0—600 m di atas permukaan laut (dpl). Tanaman akan tumbuh optimal jika ditanam di tanah yang gembur dengan rata-rata curah hujan 800—4.500 mm/tahun.

Tanaman ini terbilang bongsor. Tinggi tanaman bisa mencapai 30—40 m dengan diameter batang rata-rata 50 cm. Pada pemeliharaan tanaman yang lebih lama, diameter batang bisa mencapai 140 cm. Kulit tanaman berserat halus dengan balutan sisik, berwarna cokelat muda sampai abu-abu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

http://www.google.co.id/imgres?hl=id&newwindow=1&client=firefox-a&hs=xIM&sa=X&rls=org.mozilla:id:official&biw=1366&bih=651&tbm=isch&prmd=imvnsb&tbnid=hn_MgD0iF45hUM:&imgrefurl=http://www.kabarindonesia.com/berita.php%3Fpil%3D4%26dn%3D20081031121752&docid=PprqtNeIu5G5NM&imgurl=http://www.kabarindonesia.com/gbrberita/200810/20081031121752.gif&w=160&h=192&ei=MD6UT46uFonRrQfiwMWZBQ&zoom=1&iact=hc&vpx=1161&vpy=203&dur=691&hovh=153&hovw=128&tx=95&ty=83&sig=102335494197651282215&page=1&tbnh=129&tbnw=107&start=0&ndsp=20&ved=1t:429,r:6,s:0,i:77

%d blogger menyukai ini: